Kendali Siar Agustuslima


Cara Kerja Komponen Dalam Televisi

Posted in teknik broadcast by agustuslima on 11 June 2009
Tags: ,

cara kerja televisi

  1. Antenna berfungsi untuk menangkap gambar di udara yang dipancarkan oleh pemancar dari stasiun tv [1].
  2. Gelombang yang datang diteruskan oleh penghantar dari colokan antenna[2].
  3. Oleh Tunner, gelombang dipecah menjadi dua bagian: audio dan video[3].  Alat ini juga memilah gelombang sesuai saluran (channel) stasiun tv yang tertangkap oleh antenna.
  4. Sirkuit penembak elektron memproses gelombang gambar[4].
  5. Bagian ini menembakkan elektron (merah, hijau, biru) ke tabung katoda (CRT/Cathode Ray Tube)[5].
  6. Berkas elektron menerobos suatu cincin elektromagnet[6]. Elektron dapat dikendarai oleh magnit sebab mereka mempunyai elektron negatif.
  7. Berkas cahaya ini akan diarahkan ke layar yang di beri bahan kimia berupa fosfor. Saat berkas elektron ini mengenai fosfor akan menampilkan titik-titik warna merah, biru, dan hijau. Yang tidak kena tetap bewarna hitam. Kombinasi-kombinasi warna inilah yang menghasilkan gambar di televisi[7].
  8. Gelombang suara akan di proses pada bagian ini untuk menghilangkan berbagai ganguan[8].
  9. Gelombang audio akan di filter dan di keraskan dengan bantuan speaker[9].

Sejarah Video Tape Recorder

Posted in sejarah media, teknik broadcast by agustuslima on 28 April 2009
Tags: , ,

Charles Ginsburg memimpin penelitian di Ampex Corporation dalam mengembangkan perangkat perekam video/video tape recording (VTR) pertama. Pada 1951, video tape recorder (VTR) pertama, digunakan untuk menangkap gambar secara live dari kamera televisi dengan meng-convert informasi ke dalam sinyal elektrik dan menyimpannya ke dalam pita magnetik. Ampex menjual VTR pertama itu seharga $50.000 pada tahun 1956. VCassetteR atau VCR pertama baru dijual oleh Sony pada tahun 1971.

Ampex VRX-1000 - Videotape Recorder komersil yang pertama
Ampex VRX-1000 – Videotape Recorder komersil yang pertama

Charles Ginsburg kembali memimpin tim peneliti di Ampex yang mengembangkan sebuah mesin baru yang mampu menjalankan pemutar video dengan rate yang lebih halus karena head perangkat tersebut dapat berputar dengan kecepatan tinggi, sehingga memungkinkan respons dengan frekuensi yang lebih baik. Selanjutnya, Charles Paulson Ginsburg mulai dikenal sebagai “father of the video cassette recorder“.

Video Recording

Pada awalnya, film merupakan satu-satunya media yang ada dalam perekaman gambar program televisi. Kemudian orang beralih pada pita magnetik, yang pada masa itu sudah digunakan dalam merekam suara dengan baik, dengan kapasitas lebih banyak informasi yang dapat disimpan, berkembanglah studi baru tentang perkembangan sinyal televisi. Pada 1950-an, sejumlah perusahaan Amerika memulai pengamatan mengenai masalah baru ini.

Perkembangan Kamera Televisi

1920-an, seorang insinyur Amerika, Philo Taylor Farnsworth menemukan kamera televisi, sebuah pemroses gambar, yang mengkonversikan gambar yang ditangkap menjadi sinyal elektronik.

Format VHS

VHS – Sebuah format videotape dengan bentuk kaset yang besar diperkenalkan oleh dua vendor besar,JVC dan Panasonic pada sekitar tahun 1976. Ini menjadi format yang paling populeruntuk penggunaan home video dan tersedia banyak di rumah rental, yang pada akhirnya tergantikan oleh kaset Mini DV dan kemudian VCD lalu DVD. VHS sendiri merupakan singkatan dari Video Home System.

9 Act Structure – Teknik Menulis Novel Dan Skenario

Posted in movie making, produksi program tv by agustuslima on 14 February 2009
Tags: , , , ,

The Nine-Act Structure
Oleh : Sony Set. – scriptwriter@indonesia.com

Nine Act Structure adalah seni bercerita 9 babak untuk membuat sebuah tayangan film berdurasi 90-120 menit. Mengapa 9 babak? Untuk mengetahui sebuah proses cerita dalam sebuah film, kita harus mengetahui sebuah resep bercerita yang kini sering diadaptasi oleh banyak film-film hollywood. Resep 9 Babak sangat menolong setiap penulis skenario membagi pembagian babak cerita dengan lebih terstruktur dan detail. Sebelumnya, banyak sekali penulis skenario yang masih menggunakan pendekatan durasi 3 babak untuk sebuah tayangan film sepanjang 90 menit. Mereka membagi lama durasi menjadi 30 menit per babak. Akibatnya, pada awal cerita, penonton film dengan format 3 babak akan merasa bosan, karena terjebak pada aturan konsep pengenalan karakter selama 30 menit dan harus menunggu berpuluh menit berikutnya untuk mengetahui cara-cara menyelesaikan masalah (dalam film) yang sedari awal sebenarnya sangat mudah ditebak. Pendekatan cerita 3 babak menggunakan konsep karakter Super Hero-Antagonis, yang ditampilkan mempunyai kelebihan, kekuatan dan penampilan layaknya manusia jagoan untuk menjalani dan menyelesaikan masalah. Sedangkan konsep 9 Babak menggunakan konsep karakter AntiHero, menampilkan karakter utama yang bermasalah, korban kesewenangan diawal cerita dan terpaksa menjadi tokoh protagonis untuk menjalani dan memecahkan masalah.

The Two-Goal Analysis

Sebelum kita melangkah untuk meneliti bagian-bagian dari struktur 9 babak, ada baiknya kita memahami konsep dasar dari struktur 9 babak. Selain mengedepankan konsep karakter AntiHero, Struktur 9 babak menggunakan pendekatan konsep 2 Goal Analysis: Konsep membuat cerita dengan menggunakan 2 alternatif ending/tujuan cerita. Konsep ini dibuat untuk ‘mengelabui’ penonton terhadap jalannya sebuah cerita dan memberikan tujuan kedua sebagai new goal yang harus diselesaikan sang karakter protagonis. Goal kedua dijalankan di tengah cerita, yang ‘memaksa’ karakter protagonis berpikir ulang untuk menyelesaikan masalahnya dan berbalik melawan keadaan yang semakin ‘menjepitnya’. Cerita 2 goal mempunyai plot yang sama : Cerita orang teraniaya, terdesak, buronan dan menjadi kambing hitam, diburu oleh sebuah badan, musuh, pemerintah dan segala hal yang mengincar dirinya untuk dijadikan korban, lalu setelah mengalami berbagai penderitaan yang berat, sang tokoh yang ‘terlunta-lunta’ berputar balik, dan berbalik melawan sang pengejarnya. Cerita perlawanan korban yang tidak bersalah terhadap ketidakadilan dan penindasan adalah dasar pembuatan konsep 2 goals! Mari kita bandingkan konsep 1 Goal dan 2 Goals dalam pembuatan sebuah cerita skenario.

The Single-goal Plot – 1 Goal

Dalam rumus single-goal plot, tokoh protagonis mempunyai 1 masalah untuk diselesaikan dan menjadi tujuan yang selalu dipersiapkan sejak awal cerita film. Dengan menyelesaikan 1 goal akan menyelesaikan keseluruhan masalah. The African Queen, Raider’s of the Lost Ark, The River Wild, Spiderman dan Star Trek: Generations, adalah contoh film-film yang menggunakan pendekatan 1 Goal. Film-film tersebut sangat datar dalam cerita, mudah ditebak dan tidak menghasilkan kejutan apapun yang kini sangat didamba oleh para penonton. 2 Goals diciptakan untuk memberikan elemen kejutan dan ide cerita baru yang mampu memberikan pilihan bagi penonton untuk menikmatinya. Kita lihat gambar 1 Goal dibawah :

The Two-goal Plot

2 Goal Plot kini banyak diadaptasi film-film sukses dunia yang mengedepankan unsur surprise, suspense dan cerita yang cerdas. Rumus ceritanya sederhana saja, tokoh protagonis terlihat diburu-buru sesuatu atau badan dan dipaksa menemukan tujuan utama pertama : lari dari pengejaran. Setelah menemukan tujuan tersebut, sang tokoh akan menemukan kesadaran untuk melawan dan merancang sebuah ‘aksi balasan’ dengan membuat sebuah goal baru untuk memecahkan masalah yang menimpanya. Proses menemukan goal yang baru menjadi bagian yang sangat mengasyikkan untuk diikuti. Kita melihat sang tokoh protagonis ‘belajar menjadi pintar’ , menyiapkan rencana pembalasan dengan berbagai macam cara dan kecerdasan yang ditemukan disaat tergenting dan segala aksi persiapannya yang membuat kita terperangah, betapa cerita orang yang tertindas dan mampu berbalik melawan adalah sebuah pelajaran yang menarik secara filmis. Anda dapat melihat contoh film seperti Pelican Brief, Fugitive, Terminator I, II, III, 4, Enemy of the State, Predator dan beberapa jenis film bertema intelijen dan mata-mata. Kita melihat berbagai macam intrik dan persekongkolan tingkat tinggi yang memakan korban seseorang yang semula adalah AntiHero. Namun setelah menjalani berbagai macam peristiwa, tokoh tersebut berbalik arah dan berubah menjadi tokoh pahlawan yang melawan segenap penindasan yang mengenai dirinya.

Beberapa contoh cerita lainnya:

Dalam film E.T., the Extraterrestrial, tujuan utama dari tokoh anak kecil bernama Elliot adalah menjaga E.T dan menjadikannya teman. Goal kedua terjadi dimenit 53 (dari total 107 menit) adalah membantu E.T pulang kembali ke rumahnya di angkasa luar.

Dalam film Jurassic Park, Alan Grant, tokoh ilmuwan prasejarah datang ke pulau jurassic untuk melihat dan mengamati taman Jurrassic. Goal kedua pada menit 88 (dari total 119 menit) adalah mencari jalan keluar dan menyelamatkan diri dari kejaran dan serangan dinosaurus.

Dalam film Home Alone, Kevin, tujuan awalnya adalah kembali menemukan keluarganya. Tujuan keduanya adalah mengalahkan penjahat-penjahat yang berusaha mengejarnya. (minute 65 of 102*)

Dalam Lion King, Simba kecil melarikan diri dari kelompoknya dan menjalani hidup bermalasan hingga dewasa di suatu tempat jauh dari koloninya. Ketika dewasa, SIMBA bertemu lagi dengan teman kecilnya dahulu yang mengingatkan SIMBA untuk membalas dendam kematian ayahnya. SIMBA sadar, dan kembali ke kelompoknya semula demi membebaskan kawanan singa yang telah dikalahkan bangsa Hyena. Goal kedua terjadi pada menit 65 (dari total 105 menit). Simba berbalik menghadapi masalah masa lalunya.

Dalam film Fugitive, dokter Richard Kimble melarikan diri dari kejaran polisi karena didakwa membunuh istrinya. Goal pertama ia berusaha mencari tokoh pembunuh istrinya yang bertangan satu. Goal kedua terjadi pada menit 88 (dari total 124 menit), Dr Richar Kimble menemukan penjahat sebenarnya dari kejadian pembunuhan tersebut. IA berusaha menggagalkan sebuah rencana jahat temannya yang membuat rencana meluncurkan obat berbahaya untuk masyarakat.

Konklusi

190 film dari total 200 film box office dunia menggunakan rumus 2 Goal plot – structure. Anehnya, tidak ada orang di indonesia yang menyadari rumus ini. Jarang sekali para pengarang cerita dan penulis skenario yang mau mengamati keunikan tehnik 2 goals ini. Walaupun tehnik ini luar biasa, tidaklah menjamin sebuah film akan sukses atau tidak, karena ada beberapa rumus tambahan yang bisa membuat sebuah cerita menjadi lebih kaya dalam ide dan penggarapan.

Struktur 9 Babak

Kali ini kita akan membedah struktur 9 babak dengan lebih jelas. Jika kita amati, struktur ini sangat membantu kita mengembangkan cerita setiap 10 menit (untuk 90 menit cerita yang dibagi dalam 9 babak). Kita harus berpikir, apa perkembangan cerita berikutnya setiap 10 menit, apa yang akan kita tambah di 10 menit berikutnya? Konflik apa yang akan diperjelas dan diperkuat dalam beberapa bagian berikutnya? Tetapi kita tidak boleh hanya terpaku dengan konsep durasi. Bukan tidak mungkin bahwa durasi film kita mempunyai durasi yang lebih pendek atau lebih panjang. Walaupun tidak bisa dibagi rata masing-masing dengan durasi 10 menit, kita masih dapat mengelompokkannya menjadi 9 babak.

Struktur 9 babak memberikan jalan keluar baru bagi setiap penulis yang ingin memberikan sentuhan kejutan pada ceritanya. Banyak sekali penulis yang mampu membuat cerita menarik dalam 30 halaman pertama, tetapi persoalannya adalah bagaimana menjaga pembaca naskah Anda untuk menyelesaikan sampai halaman 90 dan tetap konsisten mengikuti cerita di 60 halaman sisanya! Tehnik 9 babak dengan menampilkan babak balik (reversal) dari sang tokoh untuk menemukan tujuan keduanya adalah sebuah upaya menyelamatkan cerita dari kebosanan. Untuk lebih jelasnya, mari kita melihat struktur 9 babak

Act 0: Babak kejadian Buruk menimpa orang lain
Ada suatu kejadian di suatu tempat yang tidak berhubungan dengan aktivitas tokoh protagonis. Seseorang terbunuh oleh orang lain (antagonis), sesuatu yang dicuri atau sesuatu yang diperebutkan.

Act 1: Babak awal dan pengenalan karakter Protagonis
Sebuah pemandangan kota, menampilkan aktifitas sang karakter protagonis yang digambarkan innocent, tidak tahu apa-apa dan tidak menyadari bahwa ada bahaya atau masalah yang mendekatinya.

Act 2: Babak kejadian buruk menimpa tokoh Protagonis
Sesuatu buruk terjadi, sosok tokoh protagonis terjebak di sebuah tempat atau kejadian yang membuatnya terperangkap, menjadi kambing hitam atau menjadi korban. Masalah semakin bertumpuk, ia menjadi buronan polisi atau pemerintah.

Act 3: Mempertemukan tokoh Anti Hero/protagonist dengan lawan Antagonis.
Tokoh Anti Hero kebingungan, ia akhirnya bertemu dengan sumber masalah secara sekelebatan. Ia heran menemui calon musuhnya (antagonis) yang justru memperburuk keadaannya.

Act 4: Sebuah rencana dibuat
Tokoh Anti Hero terpaksa membuat rencana pelarian, karena kebingungan terhadap situasi yang dihadapinya. Sementara ia mendapatkan informasi jelas bahwa ia menjadi kambing hitam dari sebuah konspirasi.

Act 5: Menuju tujuan yang salah.
Karena semakin terdesak, sang tokoh Protagonis berjalan tidak tentu arah, melarikan diri dan berusaha keluar dari masalah yang justru semakin membuatnya terpuruk. Sampai suatu saat ia membentur sesuatu yang tidak bisa dilewati. Ia jatuh. Sementara pihak lain dan tokoh antagonis tetap memburunya.

Act 6: Titik balik
Disaat titik nadir dan kesialan hidupnya, tokoh protagonis mendapatkan pertolongan dari seseorang untuk memulihkan kesehatan dan kesadarannya. Akhirnya ia mendapatkan cara untuk mengatasi permasalahannya dengan cara ‘belajar mengenal dan mengatasi musuhnya’.

Act 7: Menjalankan rencana darurat ke 2 (yang tidak pernah terpikirkan)
Setelah mengetahui kelemahan musuhnya, tokoh Anti-hero berubah menjadi tokoh superhero dan mencoba melawan penindasan yang telah dikenakan padanya. Inilah saat pembalasan. Tokoh kita berbalik menuju tempat antagonis.

Act 8 : Klimaks cerita.
Perang dan klimaks cerita.

Penutup.

Banyak film-film Hollywood menggunakan konsep pendekatan 9 babak, anti hero dan 2 goal analysis. Diantaranya dapat kita sebutkan : Fugitive, In the line of fire, Enemy State, Terminator 1,2,3, Pelican Brief dan berbagai macam film terkenal lainnya. Lihatlah bagaimana cerita dengan cerdas dibuat, penonton tidak dapat menduga akhir dari sebuah cerita, dan berbagai kejutan lain di akhir cerita. Konsep 9 babak adalah sebuah wacana baru cara menulis cerita. Anda bisa mengadaptasinya untuk berbagai jenis cerita, scenario bahkan novel. Membantu memecahkan kesulitan pengembangan cerita dan memperkaya alternative berbagai macam ending cerita.

Sumber: tvlab.blogspot.com

Istilah Dalam Broadcast Design

Dalam dunia Broadcast Design terdapat banyak istilah yang dibakukan sebagai panduan ke seluruh bagian, khususnya untuk produser promo dan on-air graphic designer dalam membuat grafis. Selain mereka hal ini juga dipakai divisi sales dan marketing untuk keperluan klien dalam mempromosikan produk mereka. Istilah-istilah ini dipakai secara global di seluruh dunia pertelevisian.

Dan untuk menyamakan persepsi untuk produser, designer, account executive maupun klien, elemen grafis dibagi menjadi tiga yaitu ; line, shape dan texture. Karena banyak hal yang belum tentu dimengerti oleh pihak sales marketing maupun klien dalam mengajukan job request maupun revisinya.

ON-AIR LOOK

  • Station ID : Bumper yang berisi identitas dari stasiun televisi.
  • Bug ID : identitas stasiun televisi yang muncul di pojok kiri atau kanan atas dari layar televisi. Ketika program berjalan, bug akan muncul dengan warna aslinya. Dan saat commercial break, bug berwarna putih transparan.
  • Program Title : bumper tentang judul program yang sedang berlangsung. Dipakai pada saat masuk ke commercial break atapun masuk ke program itu.
  • Classification : bug yang tujuannya untuk menjelaskan klasifikasi khalayak program, biasanya yang muncul di bagian sudut layar televisi. Klasifikasi ditulis dengan singkatan. SU : Semua Umur, D : Dewasa, BO : Bimbingan Orangtua, A : Anak.

ON-AIR PROMO

  • Line Up : template berisi informasi jadwal tayang dalam satu hari atau satu minggu, dengan waktu dan tanggal dari sebuah program. Bisa berupa full frame template maupun strap.
  • Running text : template di posisi bagian bawah layar televisi, berisi informasi ataupun iklan dari suatu produk.
  • Superimpose / bug : grafis berupa indentitas ataupun logo produk yang muncul di pojok kiri atau kanan atas dari layar televisi.
  • Menu : template informasi jadwal acara yang muncul untuk memberi tahu mata acara yang akan berlangsung di hari atau malam itu.
  • Next On : template berupa informasi tentang acara selanjutnya yang muncul di program yang sedang berlangsung. Bisa berupa full frame template ataupun bug.
  • Endstrap : template di bagian sepertiga paling bawah dari layar televisi (lower third) yang muncul di bagian akhir promo berisi informasi waktu dan tanggal dari sebuah program.
  • Daystrap : template lower third yang muncul di tengah-tengah promo program berisi informasi waktu dan tanggal sebuah program.
  • Endpage : bumper dibagian akhir promo program yang berisi informasi tentang judul program tersebut.
  • Talent promo : bumper yang berisi informasi waktu dan tanggal sebuah program, dengan menggunakan talent dari pengisi program yang bersangkutan.
  • Insert : animasi grafis di dalam promo program untuk memperkuat narasi dari promo tersebut.
  • Full frame insert : template animasi grafis di dalam promo program yang biasanya muncul untuk memberitahukan eksklusivitas program.
  • Slide : template grafis statis berupa pemberitahuan emergency promo ataupun slide untuk Public Service Announcement.
  • Stillstore : template grafis statis berupa informasi tentang suatu produk. Biasanya berupa logo produk.
  • Double bill : bumper di bagian akhir promo program, berisi informasi dua program atau satu program di dua jam tayang yang berbeda.
  • Squeeze frame : template yang muncul dengan mengecilkan ukuran program yang sedang berlangsung, berbentuk siku (L). Berisi informasi tentang suatu produk.
  • Template LSF : Template yang muncul sebelum penayangan sebuah film yang berisi informasi tentang kelayakan materi yang dikeluarkan oleh Lembaga Sensor Film.

NEWS & NON-NEWS PROGRAM

  • OBB / CBB : singkatan dari Opening Bumper Break / Closing Bumper Break, yaitu identitas dari judul suatu program berupa animasi dan grafis dengan durasi 15 – 30 detik.
  • Bumper in / out : animasi grafis identitas suatu program untuk masuk ke commercial break ataupun sebaliknya, pada saat program berlangsung.
  • Lower third : template grafis yang muncul di bagian sepertiga paling bawah dari layar televisi, dengan informasi nama news anchor, reporter ataupun narasumber. Maupun judul dari materi berita yang ditayangkan.
  • Highlight template : template yang berisi cuplikan dari materi di dalam program yang akan disajikan pada episode tersebut.
  • Sting : bumper di dalam program untuk menjelaskan segmen-segmen dalam sebuah program.
  • News ticker : template di bagian bawah seperti running text yang berisi informasi singkat dari berbagai berita.
  • Virtual set : Set presenter berita yang dibuat dengan compugraphic dan dikomposisikan dengan presenter untuk keperluan on air berita.
  • Over the shoulder / Picture box : Gambar/ilustrasi tentang materi berita yang dibawakan presenter, terletak di pojok kanan atau kiri presenter kira-kira diatas bahu presenter dengan tipe shooting medium close up.
  • Window chit chat : template yang dipakai bila yang muncul di layar televisi adalah presenter dan reporter di lapangan. Terdiri atas template grafis dengan minimal dua window yang berisi gambar presenter di studio dan gambar reporter yang melakukan peliputan langsung dari lokasi.
  • Beeper : template laporan telepon dari lokasi karena ketiadaan gambar yang bisa didapat dari lokasi. Biasanya berisi ilustrasi jenis template dan foto serta nama narasumber atau reporter.
  • Flash bumper / transition : transisi singkat, dengan durasi maksimal 1 detik untuk menyambung dari satu gambar ke gambar lain.
  • Graphic insert : berupa penjelasan grafis dalam sebuah program, bisa berupa informasi peta, illustrasi maupun graphic text.

Istilah-istilah ini berlaku secara umum namun tidak semua stasiun televisi dan program memakainya, tergantung keperluan dari tiap-tiap stasiun.

Deklarasi ATVLI

Posted in manajemen tv, sejarah media by agustuslima on 21 June 2009
Tags: ,

Dalam rangka Hari Jadi Asosiasi Televisi Lokal Indonesia (ATVLI) Ke-6 maka seluruh Anggota ATVLI yang melaksanakan Kongres ke-III ATVLI pada tanggal 20-21 Juli 2008 di Ubud Bali dengan ini menyatakan kebulatan tekad untuk menyampaikan beberapa hal penting kepada Regulator Penyiaran Indonesia (Departemen Kominfo RI. dan KPI Pusat/Daerah) :
Seluruh Anggota ATVLI siap untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), menjalankan proses demokrasi dan memberi persembahan program yang terbaik bagi pembangunan masyarakat Indonesia seutuhnya yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945.
Seluruh Anggota ATVLI menjunjung tinggi kemajemukan dan kearifan lokal dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika,menteri dengan bertumpu pada potensi daerah melalui eksistensi televisi lokal, dengan memperkokoh kehadiran televisi lokal tersebut sebagai salah satu perwujudan otonomi daerah untuk persatuan bangsa.
Sebagai salah satu pilar demokrasi, seluruh Anggota ATVLI berpartisipasi aktif dalam Pesta Demokrasi di seluruh wilayah Indonesia.
Anggota ATVLI membulatkan tekad untuk tunduk pada UU No. 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran (beserta Peraturan lainnya yang terkait), sebagai wujud dukungan kami terhadap regulasi yang dijalankan oleh Departemen Kominfo RI bersama dengan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) baik di pusat maupun daerah.
Saat ini kondisi perijinan televisi lokal khususnya anggota ATVLI masih menunggu proses perijinan yang sah, termasuk di antaranya melalui Forum Rapat Bersama (FRB) yang dilakukan Pemerintah Pusat bersama KPI.
Untuk itu kami memohon Bapak Menteri Kominfo dan Ketua KPI Pusat sebagai Regulator Penyiaran untuk segera memberi kepastian hukum terkait proses perijinan tersebut kepada kami yang merupakan bagian dari industri penyiaran di Indonesia.
Seluruh Anggota ATVLI merupakan tuan rumah didaerah dan ranah publiknya masing-masing. Oleh sebab itu harus mendapatkan prioritas dalam pengalokasian frekuensi untuk siaran.
Sehubungan hal tersebut, seluruh Anggota ATVLI meminta Regulator Penyiaran khususnya Direktorat Jenderal Postel Depkominfo memperhatikan hal tersebut diatas dan menjadikannya sebagai perhatian khusus dalam rencana penertiban frekuensi didaerah, dengan memberi transparansi klasifikasi dan teknisnya kepada Anggota ATVLI.
Hal ini karena seluruh Anggota ATVLI sudah sejak lama tunduk pada aturan yang ada khususnya UU No. 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran dengan mengikuti mekanisme perijinan penyiaran yang sesungguhnya.
Demikian Deklarasi ini kami sampaikan, agar menjadi perhatian kita bersama. Terima kasih.

Ubud, Bali 21 Juli 2008
Seluruh Anggota Asosiasi TV Lokal Indonesia (ATVLI)

sumber : www.atvli.com

Satu Program ‘Re-package’, Juni ini

Posted in produksi program tv by agustuslima on 31 May 2009
Tags:

Terhitung sejak 21 April tahun 2007, satu program yang mengetengahkan isu kesetaraan gender dengan menghadirkan profil perempuan inspiratif mulai mengudara di layar kaca Bandung TV, Binangkit.

Di awal perjalanannya, program yang digawangi para kru yang kebanyakan perempuan sempat menjadi salah satu program yang berhasil meraih kategori unggulan di Bandung TV. Sudah banyak sekali profil tokoh perempuan yang diangkat dari berbagai kalangan di bidang yang digeluti masing-masing.

Pada bulan Juni 2009, tim produksi Binangkit berencana untuk mengubah format tayangan acara ini dengan sedikit pembenahan disana-sini. Sepertinya akan terasa ‘lebih padat’ dengan pemangkasan durasi hingga 30 menit dari semula 1 jam dalam satu episode tayangan. Namun, jam tayang tetap tidak berubah: SETIAP SABTU PUKUL 10.00 WIB.

So, bagaimana format Binangkit ‘repackage’ sebenarnya? Kita tunggu bersama..

Framming Kamera dan Pengaturan Komposisi Gambar

Posted in movie making, teknik broadcast by agustuslima on 28 April 2009
Tags:

JENIS-JENIS SHOT

> Close Up Shot
Shot yang menampilkan objek pada gambar lebih dekat. Misalnya dari batas bahu sampai atas kepala.

> MCU (Medium Close Up Shot)
Shot yang menampilkan sebatas dada sampai atas kepala.

> BCU (Big Close Up)
Shot yang menampilkan bagian tubuh atau benda tertentu sehingga tampak besar. Misal : wajah manusia sebatas dagu sampai dahi.

> ECU (Extrime Close Up)
Shot yang menampilkan detail obyek. Misalnya mata, hidung, atau telinga.

> MS (Medium Shot)
Shot yang menampilkan sebatas pinggang sampai atas kepala.

> KNEE SHOT
Shot yang menampilkan sebatas lutut sampai dengan atas kepala

> TS (Total Shot)
Shot yang menampilkan keseluruhan obyek.

> ES (Establish Shot)
Shot yang menampilkan keseluruhan objek ditambah dengan ruang di sekitarnya sebagai pemandangan atau suatu tempat untuk memberi orientasi di mana peristiwa atau bagaimana kondisi adegan itu terjadi.

> Two Shot
Shot yang menampilkan dua orang/objek terlepas dari jauh atau dekatnya pengambilan gambar.

> OSS (Over Shoulder Shot)
Pengambilan gambar di mana kamera berada di belakang bahu salah satu pelaku atau dibelakang objek yang membelakangi, dan tampak di dalam frame. Sementara obyek utama tampak menghadap kamera dengan latar depan bahu lawan main.
> POV (Point Of View)
Kemera sebagai sudut pandang pelaku atau subjek gambar (sudut pandang orang pertama).

SUDUT PENGAMBILAN KAMERA

1. High Angle
Posisi kamera lebih tinggi dari obyek yang diambil.

2. Normal Angle (Eye level)
Posisi kamera sejajar dengan ketinggian mata (titik pusat perhatian) obyek yang diambil.

3. Low Angle
Posisi kamera lebih rendah dari obyek yang diambil.

GERAKAN KAMERA

> Panning
Panning adalah gerakan kamera secara horizontal (posisi kamera tetap di tempat) dari kiri ke kanan atau sebaliknya.

Pan right : gerak kamera mendatar dari kiri ke kanan.
Pan left : gerak kamera mendatar dari kanan ke kiri.

> Tilting
Tilting adalah gerakan kamera secara vertikal (posisi kamera tetap di tempat) dari atas ke bawah atau sebaliknya.

Tilt up : gerak kamera secara vertikal dari bawah ke atas.
Tilt down : gerak kamera secara vertikal dari atas ke bawah.

> Tracking
Track adalah gerakan kamera mendekati atau menjauhi obyek.
Track in : gerak kamera mendekati obyek
Track out : gerak kamera menjauhi obyek

> Follow
Kamera mengikuti obyek bergerak searah

GARIS IMAGINER

Garis imaginer digunakan untuk memberi batas posisi kamera dalam mengambil gambar agar tidak jumping dan menjaga kontinuitas gambar. Gampangnya kita bayangkan garis lurus yang memisahkan kiri dan kanan. Apabila kita meletakan kamera posisi di sebelah kanan, maka untuk pengambilan berikutnya (apalagi jika kamera tidak hanya satu) juga harus mengambil dari posisi sebelah kanan. Begitu juga sebaliknya.

ALAT PENDUKUNG KAMERA

> Tripod, penyangga kamera yang terdiri dari tiga kaki.

> Monopod, penyangga kamera yang hanya mempunyai satu kaki.

> Dolly, penopang kamera diatas roda yang bisa digerakkan keberbagai arah, biasanya berjalan diatas rel dan mempunyai 4 roda.

> Cam Crane, alat penopang kamera berbentuk pipa panjang yang disalah satu ujungnya diletakkan kamera dan ujung lainnya diberi pemberat.

> Jimmy Jib, semacam Cam Crane yang diberi remote head yang dikontrol oleh operator kamera.

> Filter, plastic atau kaca yang diletakkan diatas lensa kamera untuk memberikan suasana tertentu.

Next Page »